FEATURES NEWS

SEMUA HAL YANG ADA DI KABUPATEN PATI


Sumber:

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.idntimes.com%2Ftravel%2Fdestination%2Fangel-ai-rose%2Fdestinasi-wisata-di-kota-pati-c1c2&psig=AOvVaw2asRf7gOzW3RoWwqQ3KXCY&ust=1631715017269000&source=images&cd=vfe&ved=0CAsQjRxqFwoTCMi9zdHS_vICFQAAAAAdAAAAABAJ

 

Pada saat saya sedang berada di Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah, saya ditanya oleh beberapa penduduk di sana. “Mas ini dari mana asalnya?”. Saya menjawab, dari Kabupaten Pati. “Dimana Pati itu?” Tanya salah satu warga. Saya menjelaskan bahwa Pati terletak di sebelah timur Semarang. “Oh…apa dekat Kudus?”. Saya menjawab betul timur Kudus. Kemudian saya balik menanyai mereka.”Bagaimana menurut pendapat Bapak tentang Pati?”. Mereka kompak menjawab tidak tahu. Waduh…gerutu saya. Kenapa mereka tidak tahu Pati.

Pati berjarak kurang lebih 75 km timur Semarang

Pembaca yang budiman, Pati adalah salah satu pemerintah daerah di timur laut Semarang berjarak kurang lebih 75 Km. Dari Semarang anda melewati Kabupaten Demak, Kudus dan tiba di Kabupaten Pati. Secara geografis  Kabupaten Pati terletak pada posisi yang sangat strategis karena terletak di jalan Pantura yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya yang merupakan mobilitas  terdapat di Indonesia, selain itu Kabupaten Pati  terletak dijalan transportasi yang menghubungkan Kota Jepara dan Kota Solo yang merupakan satu – satunya pintu gerbang masuknya wisatawan mancanegara di Jawa Tengah.

Pati berjuluk Bumi Mina Tani

Kalau Semarang berjuluk Kota Atlas, Demak sebagai Kota Wali dan Kudus Semarak, maka Pati mempunyai julukan adan slogan Pati Bumi Mina Tani. Slogan ini dibuat berdasarkan karakteristik geomorfologi Kabupaten Pati yang memang memiliki dataran tinggi dan rendah, fungsi lahan Pertanian dan Perikanan yang ingin memajukan-mensejahterakan daerah lewat hasil bumi pertanian-perikanan. Bumi Mina Tani sendiri mempunyai kepanjangan. Bumi = Berdaya Upaya Menuju Identitas Pati. Mina = Makmur Ideal Normatif Adil. Tani = Tertib Aman Nyaman Indah.

Asal usul nama “Pati”

Kata “Pati” tidak terlepas dari sejarah tutur turun temurun tentang Raden Kembang Joyo dan Raden Sopoyono beserta prajurit Carangsoko yang membuka Hutan Kemiri untuk menjadi perkampungan. Saat mereka sedang membuka hutan, datanglah seorang laki-laki Ki Sagolo memikul gentong yang berisi air. Raden Kembang Joyo merasa terkesan akan minuman manis dan segar yang dijual Ki Sagolo, maka ia bertanya pada Ki Sagola tentang minuman yang baru diminumnya. Ki Sagola menceritakan bahwa minuman ini adalah Dawet terbuat dari Pati (tepung) Aren yang diberi Santan (santen = Jawa) kelapa, gula aren/kelapa. Mendengar jawaban itu Raden Kembang Joyo terinspirasi, kelak kalau pembukaan hutan ini untuk pemukiman selesai akan diberi nama Kadipaten Pati-Pesantenan.

Logat khas orang Pati

Diambil dari hanyaopinisaya.blogspot.com dan saya tambahi sedikit, berikut logat khas orang Pati :

“He’e a” ini seruan khas orang Pati. Umunya orang Jawa menyebutkan
“Iya to”.

abung : dari kata abang (merah), merah sekali

abut : berat banget

Adoh: jauh

akih : okeh : mberah : banyak

Amoh : ajor : Barang lama yang sudah tidak layak pakai, usang

Ambles: masuk ke dalam tanah

Ancen, anci, Pancen, Panci : memang

Andri : Antri, Mengantri

angas, wani; berani hanya jika tidak ada orangnya, atau berani di bibir saja.
Contoh penggunaan: Ditantang Si Bodong ra wani.
Nanging nek ra ana wonge ngaku wani. Dasar wani-wani angas.
(Ditantang Si Bodong kok tidak berani. Tapi kalau tidak ada
orangnya mengaku berani

angger : hanya
misal : ngomonge angger njeplak wae,… (ngomongnya hanya asal saja)

angkruk : tempat duduk dr bambu atau kayu yg lebar buat duduk ramai-ramai, tempat nongkrong,
biasanya dipersimpangan-persimpangan jalan.

Antemi : Pukulin, Pukul

Anyep : Tidak ada Rasa, Tawar

ape : ameh (kata keterangan); akan, hendak, mau, ingin. Orang
Jawa lainnya sering menggunakan ‘arep’.

Aras-arasen: malas

asat, sat : habis air

atis (kata sifat); dingin. Banyak daerah Jawa menyebutnya adem,
sedangkan atis untuk menyebut sangat dingin. Bagi orang Pati,
adem berada di antara anget dan atis. Jadi adem berarti tidak panas juga tidak dingin.

aweh : memberi
awor : berbaur/ bersama

Babon : Cewek (kasar)

Badek : bau

Bakit : sudah lihai

Bajangan (kata benda) : mangga muda

bajal : coba

Bedigasan: nakal

Belek: jelek

Belik : Sumber air

Bejaji: layak

Bejijat; banyak polah kurang hati-hati.
Contoh penggunaan: Dadi wong ra sah bejijat.
(Jadi orang tidak usah banyak polah)

Benthet : Rusak , Retak

Bentir : Terang

Besik: membershkn rumput dladang dg cangkul

Bileng : pusing. Mungkin beberapa daerah dijawa menyebut kata pusing dengan “ngelu”. Namun diPati kata itu diganti dengan Bileng.

bladu : ketu : kopyah

Blek : berbentuk kotak dari seng, biasa untuk tempat kerupuk (kerupuk blek)

Bloko : Kata ini lumayan umum di beberapa daerah lain, yang mempunyai arti jujur atau apa adanya. Tetapi di wilayah Pati, "bloko" ini malah mempunyai arti yang hampir mirip imbuhan "tok" pada logat bicara orang Solo dan Semarang yang berarti "saja". Contoh penggunaannya: Kuwe mangan mung karo kerupuk bloko?. Kuwe mangan mung karo kerupuk tok?. Kamu makan cuma dengan kerupuk saja?.

Blurut (kata kerja) : bolos

brawokan (kata sifat); suka teriak-teriak.

Briga – brigi : takut-takut

Bòjó: nasi,mkanan yg dksh wkt kita hbs nyumbang/buwoh(biasane ibu2)

Bolah : Benang

Bomah :(mlebu omah) masuk rumah

Buntel : bungkus

busek (kata benda): penghapus

buroh : buruh

Buwoh: nyumbang (biasa pernikahan)

Cangkem: mulut

cawik : lepek, pasangan cangkir

Ces : Lumayan / bagus

Ceblok : tibo : jatuh

Cedak : dekat

Ceduk : siwur : gayung air

celuk : panggil
ciruk  : dekat

Cilang-cileng (kata kerja); clingak-clinguk.

Cilikan (kata benda); anak kecil.

Cis : bercinta

Crangaban (kata sifat); hampir sama dengan gragas,
setiap makanan ditelan.

Clutak (kata sifat); nakal. Banyak daerah Jawa
juga menggunakanya.

Cokot: gigit

Cokat-ceket : cepat-cepat

Congklang (kata sifat); celana yang panjangnya di atas
mata kaki, pertanda sudah kekecilan atau tidak muat.
Banyak daerah menyebutnya cingkrang.

Dakik (kata sifat: pintar, pandai

Dangkel: akar dari pohon

Dapur : Muka, Wajah (kasar)

Dianto’i; hmmm, kira-kira sama dengan jancuk Jawa Timuran.

Dilah: lampu

dondom :  menjahit dengan tangan
dongkol  : mantan pejabat desa
dos     : alat perontok padi

dowu : panjang
ndenger : tahu, mengerti

Dluwang : uang kertas

Dudoh (kata benda) : kuah sayur, menunjukkan

dunak : keranjang tempat mengangkut barang
duwik : uang

Elek bukek (kata sifat); jelek sekali.

Elem : manja
– dielem : dimanja

Elok (kata sifat) ; pantas, pas,

Engkek : Ngapel

Eram (kata sifat) : Tidak percaya / heran

Eroh: melihat

ewoh : sungkan

Gage : Cepat

gajeh : gajih, lemak
gapah, nggapah : menyepelekan
garu : alat meratakan sawah setelah dibajak
gasik : kering, cepat sekali
gedibal : tanah yang melekat pada kaki/alas kaki

Garangan: sayur yang sudah dipanasi lagi

Gedandapan: kelabakan

Gedem (kata sifat) : gede banget / besar sekali

Gembeng: cengeng

Genter (kata benda) : galah

Geret: tarik

Gidal : kotoran di gigi

Gloggengi : menyalakan motor dengan kaki

Go; sejajar dengan dong. Biasanya digunakan dalam kalimat
seru. Di Solo-Yogya ada istilah no.
Contoh penggunaan: Wong kok kesuwen. Gage, go! Gage go…”. Adalah contoh bahasa dan logat wong Pati dengan imbuhan kata “go” di belakang kata-kata tertentu. Kata “Gage” berarti gagehan [cepetan] dan kata “go” dalam konteks bahasa Indonesia memiliki pengertian [dong]. Jika kedua kata tersebut digabung maka akan mempunyai arti [Cepetan dong..].
(Orang kok lambat. Lekas dong!);
Mbok sabar, ngko sik, go! (Mbok sabar, nanti dulu dong!)
Nah, gage ini juga khas Pati. Biasanya orang menyebutnya lekas, cepet.

Gombal mukio: gak kepakai

Gonggos; rakus. Kebanyakan orang Jawa menyebutnya gragas.

Grago : perawakan seorang yg tinggi besar tapi tidak seimbang dengan badannya,
jadi kalo pake baju lucu.
contoh: Wong kok grago ngono.

gudal, gidal : kotoran yang menempel di gigi
gureh : gurih

Harene : katanya

Hera : Iya kan

Hola-holo (kata sifat) : Bodoh

Ijuk: membersihkan tangan

iko : itu (jauh)

Ita-itu : ehmm,.. (mencla mencle), sepadan dengan peribahasa lidah tak bertulang.

Iteng : Hitam sekali

Jagrak: standard motor

Jangkar; memanggil orang yang lebih tua, langsung pada namanya.
Tindakan ini menimbulkan kesan kasar dan tak sopan. Hal ini supaya membiasakan orang yang lebih muda untuk
menghormati orang yang lebih tua dengan memanggil Mas, Mbak,Ibu, Bapak, atau Mbah, dll. Orang Jawa lainnya menyebutnya jantur.

Contoh penggunaan: Simak dialog antara kakek dan cucu
berikut ini.
Kakek : Le, tukokno rokok, Le. (Nak, belikan rokok, Nak)
Cucu : Iyo Jan, Paijan. (Iya Jan, Paijan)
Kakek : Eee… karo mbahe kok jangkar. (Eh, sama kakeknya kok
jangkar)

Jantok; meminta tanpa malu-malu, dengan terang-terangan.
Contoh penggunaan: Simak dialog singkat dua anak kecil ini.
A: Eh, aku jaluk jajanmu, a! (He, aku minta jajanmu dong)
B: Bocah kok isane jantok. Tuku dhewe, a! (Anak kok bisanya jantok.
Beli sendiri dong)

Jare : Hare :  katanya

jireh : penakut

Jegong : Tempat sampah (tanah yang di lubangi)

Jeguran: mandi di kali

Jeplak: asal,ngawur
contoh: ngomonge angger njeplak wae
(ngomongnya hanya asal saja)

Jotong ndelik (kata benda); permainan anak-anak tradisional
petak umpet. ada beberapa istilah dalam gim yang sudah jarang
dilakukan oleh anak-anak ini
– cikup; orang yang bergiliran mencari teman-teman yang
bersembunyi menutup wajahnya, tidak melihat, menunggu yang
lainnya tuntas mencari tempat persembunyian yang pas.
– jetul; orang yang bersembunyi berhasil menempati pos
cikup tadi, sebelum orang yang cikup menyebut namanya.
Barang siapa yang bersembunyi berhasil teridentifikasi dan
dijetuli oleh si cikup, akan kena giliran cikup dan mencari
kawan-kawannya pada putaran selanjutnya.

Jumbleng : kakus, WC (biasanya tanah yang di lubangi untuk buang kotoran)

Kacu : Sapu tangan

Kakekane; hmmm, sejenis umpatan juga. Daerah lainnya,
terutama Jawa Timur maupun Pantura juga menggunakannya.

kaliren : kelaparan
Kantrog : Bergoncang, bergoyang

Karipan (kata kerja); bangun kesiangan.
Umumnya orang Jawa menyebutnya kawanen.

kartopel : ketapel

Kawis (kata benda); sejenis buah langka yang bisa
digunakan untuk membuat setrup.
Biasa juga disebut kawista.

keluk : asap

Kemampo : setegah matang

Kemaki/keta kete/kementhus (kata sifat) : sombong

Kemenyék (kat sifat) : kemayu

Kemplinthi: bergaya

Kemprengseng : air hampir mendidih

Kempriyek: gatal yg tak tertahankan

Kenthel : Pukul

Keplek : main kartu
kereng : galak

Keri : ketinggalan, tertinggal

Ketlorop: beli barang yang terlalu tinggi harganya

ketisen : demam

Klitik : uang receh

Klongor : benar-benar haus

Klowor; diartikan konyol, tapi kurang tepat juga.
Kocak karena agak bodoh dan konyol.

Kodhak : Bisa melakukan

Kombong (kata benda): kandang

Korea : preman

Kopok : Kotoran telinga (congek)

krinjing : keranjang, semacam tas untuk belanja

Kucingen (kata sifat, kata kerja);
pantat sakit karena jatuh terjengkang.

Kulah : Kamar mandi

Kulup: sayup urap

Lah opo (kata kerja); ngapain. Biasanya untuk kalimat tanya.
Orang Jawa lainnya menggunakan ‘ngapa’.

Lampit: tirai dari bambu

lagek : sedang melakukan sesuatu

lar : bulu sayap unggas
laut : istirahat kerja

lawôh : lauk

Lebi : tutup

Legem : manis sekali

Leno: anak kelabang yang belum keliatan kakinya (kalo dibunuh keluar warna biru)

lewa-lewo (kata sifat); tidak mau makan,
padahal sudah disodori. Umumnya dilakukan oleh anak kecil yang kurang
sreg dengan menu yang tersedia.

Leh; sejajar dengan sih. Biasanya digunakan
dalam kalimat tanya.
Contoh penggunaan: Piye, leh? (Bagaimana sih?)

Lengo klethik : minyak goreng

Lengo liun : minyak tanah

Lincak: tempat duduk dari bambu

Luru: cari

Mak jegaguk : tiba-tiba (ada)

Marem : mantab

Mbadali : membantah

Mbadék: tebu yg disimpan lama

Mbelgedhes : tidak percaya

Mberuh/mberah : banyak

Mblawah : kalau ngomong asal ngomong (ngecap)

Mblenger: bosan dg makakan yg sama

Mbois : pantas

Mburi : belakang

Menjeng (kata sifat) : manja

Menyat (kata kerja); bergegas.

Medèl : agak melorot,
contoh : celonomu kuwi lo medel

Melok : Melu (bhs Jawa), Ikut

Mengken : nanti

Metal: mencangkul ladang

Metis: bandel

Mlepok (kata sifat) : sombong

Mlethek : Retak

Mingser (kata kerja) : pergi barang sejenak.

Monyos (kata benda): tape diasih gula merah lalu digoreng

Mrempul: bengkak

Muring : ngambek / marah

Mulo : kata yg menyatakan ketidak percayaan (keraguan) atau bisa maka

Nangkal: menerbangkan layang-layang

Nanjak: nandur telo

Ndadah : kebun dibelakang rmh

Ndaglik : Pintar, Cerdas atau Ahli

Ndahepo : alangkah/betapa

Ndelalah : tiba-tiba yang mengejutkan

Ndenger: tau / mengerti

Ndobos : omong kosong

Ndudah : membongkar (*mencari)

Ndungu: dengar

Nebal: lewat jalan pintas.

Neburi / nututi/ nginti l : mengikuti

Nerek-nerek : kemana mana

Ngagrok:tengkurap

Ngalong: bantu ditempat orang punya kerja (nikahan,sunatan.dll)

Ngengei: kasih sisa

ngedos : panen padi

Nggagal: kata imbuhan yang berart sangat(sekal)i.
Cnth: gedene nggagal: sgt bsr skali. Ayune nggagal: sgt cantik skali

Ngokek : sebentar, entar dulu

Ngoncok : berjalan (cepat) karena buru-buru

Ngorong: haus

Ngrasani (kata kerja) : membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan. (gosipin)

Ngrenceki kayu: membersihkan ranting dari cabang kayu

Njarak : sengaja

Njebos: lewat

Nos/ nus : cumi cumi

Nuju: pas (Pas terjadi pada waktu itu)

Nyeklikek: ketawa sampai drop

Nyimik-nyimik : makan dengan malas

Nyorok: membershkan kotoran hewan,biasane kotoran sapi

Nyumet (kata kerja): menyalakan

Ogak; tidak. Kata ini juga bisa ditemui di daerah Jawa Timuran.
Kebanyakan orang Jawa menyebutnya ora.

Ogak idep : tidak mau tahu

Ogo: makanan kecil dari biji2an,lama makannya karena susah dbuka

Olah-olah: masak-masak

Ombu : lebar (luas, besar)

Orok-orok : galah dr bambu bwt ambil mangga

Pati (kata benda) : tepung Tapoka dali singkong/ketela

Pathak (Sawat) : Melempar (batu)

Peceren : got,

Penthit/kelik : tinggi sekali sampai hampir tak terlihat

Peteng ndedet:gelap banget

Pia-pia; sejenis gorengan. Orang Yogya menyebutnya bakwan.
Ada yang bilang heci atau othe-othe. Namun, bagi orang Pati,
bakwan adalah gorengan yang ada potongan biji jagungnya.

Piye leh”. “Lahpo leh”."Lahpo re". Untuk kalimat ini, sebenarnya terdapat beberapa daerah eks karesidenan Pati yang menggunakannya [Rembang, Kudus, Grobogan dan Blora], tetapi kalimat/kata/frasa ini tetap menjadi sesuatu yang lain daripada yang lain jika diucapkan oleh wong Pati. Imbuhan “leh” di sini sama dengan imbuhan “to” pada daerah lain di Jawa, yang berarti [sih..]. Jadi “Piye leh” mempunyai arti [Gimana sih..].

Pomit : minyak rambut

Pupoh; hajar.
Contoh penggunaan: Ngebut pupoh. (Kalau ngebut di jalan ini,
akan dihajar warga)

Randandeh : Dalam bahasa Indonesia, kata tersebut berarti “tidak apa apa”, didaerah lain kata ini biasa di ucapkan dengan kata”Gakpopo/gapopo”.

Reguduk: tiba2 byk yg dtg.

Ropel : bonceng lebih dari 1org

Ridu (kata kerja); mengganggu. Banyak daerah lain
di Jawa juga menggunakan kata ini.

Sempal : dipatahkan

Setin (kata benda, kata kerja); gundu. Tempat lainnya
menyebutnya neker. Permainan ini juga sudah jarang dipraktekkan
oleh anak-anak zaman sekarang.

Setrup (kata benda) : sirup

Sibin (kata kerja); mandi tapi tidak sabunan dan hanya
sekadar membasahi badan. Biasanya menggunakan air hangat.
Umumnya orang yang sedang sakit
dan malas mandi basah melakukan sibin.

Sik…ah : ehmmm kata kata makian

Singkek (kata benda); sebutan bagi orang keturunan Tionghoa.

Solu; tindakan menjilat.
Contoh penggunaan: Oalah, wong kok isane nyolu.
(Walah, jadi orang kok bisanya menjilat)

Sonder : sama sekali / tanpa

Sorot: mengairi ladang

Sowangan: jenis layang-layang yang bisa berbunyi

Sual : celana

Tang-teng-tang-teng (kata keterangan); lahap makan.

Tétér  yang berarti rusak

Tesmak/tismak : kacamata

Tonjokan: biasanya nasi dus yg dilengkapi undangan yg dkirim
org yg mau py kerja kpd org2 yg dkenal

Tonyo (kata kerja): jotos,pukul,tinju

Tugel: patah

Uceng : sumbu

Ugung (urung) : belum. Kebanyakan orang Jawa menyebutnya durung.

Ulem : surat

Umbal : ngangkot, (naik bus)

umbul (kata benda, kata kerja); permainan mengadu gambar kotak kecil-kecil.
Ada istilah dari permainan ini:
– baton(an): bergabung atau bekerja sama atau bersekutu dengan
kawan lainnya supaya jumlah umbul mereka lebih banyak.
– lemir: lembaran umbul yang sudah terlalu lemas dan tipis.
Biasanya anak-anak tidak mau menerima pemberian umbul yang
terlalu lemir (yang kalah memberikan sejumlah umbul kepada
yang menang sesuai besarannya).

Uncalke: lemparkan

Undak-unduk: ragu-ragu

unda-undi : datang atau muncul dengan selang waktu yang tidak terlalu lama
atau bisa dikatakan berurutan

Unyeng-unyeng : pusaran pada rambut kepala

uplik (kata benda); dian atau pelita. Banyak daerah Jawa lainnya
menggunakan kata ‘senthir’ atau ‘teplok’

Ada lagi pengucapan yang khas, setiap kata yang berakhiran –ih, akan diucapkan dengan akhiran –eh. Misalnya pilih diucapkan pileh. Putih-puteh. Getih-geteh. Sisih-siseh. Dll.

Sedangkan kata yang berakhiran –uh akan
diucapkan dengan akhiran –oh. Misalnya duduh, diucapkan
dudoh. Misuh-misoh. Musuh-musoh. Rusuh-rusoh. Tempuh-tempoh.
Dll.

Ada lagi yang khas Pati. Jika kita membuat kalimat
peritah, seringkali menggunakan partikel –ke.
Misalnya: tukokke (belikan), lebokke (masukkan), dll.
Biasanya, orang Pati menggunakan partikel –no.
Mungkin daerah lain juga menggunakan
kebiasaan ini. Misalnya: tukokno, lebokno.

Untuk menyatakan kata ganti milik orang kedua,
biasanya orang menggunakan kata –mu. Misalnya:
mbahmu (kakekmu), matamu, pitmu (sepedamu), dll.
Namun, orang Pati terbiasa dengan –em
(jika huruf akhirnya vokal, menjadi –nem).
Misalnya: mbahem, matanem, pitem, dll.

Komentar