ARTIKEL POPULER

 Masalah yang Terjadi dalam Perkuliahan Tatap Maya


https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fstptrisakti.ac.id%2Ftag%2Fkuliah-daring%2F&psig=AOvVaw2qtjUWEY0OVXZRQA-T5dfs&ust=1642905821678000&source=images&cd=vfe&ved=0CAsQjRxqFwoTCOjo8qqrxPUCFQAAAAAdAAAAABAF


Baru-baru ini pemerintah sudah mengizinkan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Dalam Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Tatap Muka Tahun Akademik 2021/2022 dijelaskan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi mulai semester gasal tahun akademik 2021/2022 diselenggarakan dengan pembelajaran tatap muka terbatas, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, dan/atau pembelajaran daring. Meskipun sudah ada edaran tersebut, perguruan tinggi tidak lantas mengambil keberanian utk melaksanakan pembelajaran tatap muka. Pembelajaran daring menjadi jawaban atas keberlanjutan proses pembelajaran di masa wabah COVID-19, pembelajaran dengan pemanfaatan TIK ini dianggap yang paling efektif mengingat adanya proses transfer ilmu serta interaksi antar para pendidik dan peserta didik dengan tanpa keharusan hadir secara fisik yang akan memungkinkan menjadi sarana penyebaran COVID-19. Banyak hal yang harus disiapkan, sehingga keputusan yang diambil tidak menjadi persoalan baru di kemudian hari. Sebagian dosen menyatakan bahwa pembelajaran daring berjalan kurang efektif dikarenakan dosen sebagai pengampu mata kuliah tidak benar-benar dapat "hadir" secara langsung untuk melakukan proses transfer pengetahuan dan sekaligus penilaian terhadap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah yang bersangkutan.

Pembelajaran kelas untuk tahun ini secara online melalui aplikasi tatap maya. Sebagaimana biasanya, dosen menyapa satu persatu mahasiswa di kelas. Saat menanyakan kabar, satu persatu menjawabnya dengan datar saja, bahkan tak ada sesuatu yang spesial. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana para mahasiswa sangat antusias, hal itu karena perasaan bahagia menjadi mahasiswa baru di perguruan tinggi. Sudah hampir dua tahun, semenjak pandemi melanda, banyak dosen yang merasakan perbedaan yang nyata saat bertemu mahasiswa baru. Baik itu secara langsung maupun secara maya dalam proses pembelajaran. Tidak ada euforia perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa. Mereka hanya datar-datar saja saat mengikuti kuliah pertama. Kalau dulu sebelum pandemi, dosen menjumpai penampilan anak muda yang keren dengan wajah sumringah. Mereka seakan ingin menunjukkan kepada semua orang, bahwa saya tidak lagi anak remaja yang tiap hari berseragam abu-abu atau kalau dengan bahasa anak sekarang, “yang penting penampilan dulu, urusan kualitas belakangan”. Situasi seperti ini ternyata sangat berpengaruh terhadap motivasi, sikap dan gaya belajar para mahasiswa. Mereka seakan belum sepenuhnya menampilkan identitas sebagai mahasiswa yang tangguh, percaya diri, dan siap dengan berbagai risiko yang akan dihadapi. Tak terlihat tampilan sosok mahasiswa yang siap menjadi agen perubahan pada diri mereka. Di sinilah lantas saya berpikir tentang pentingnya Learner Agency. Sebagaimana dijelaskan oleh Larsen-Freeman, D., Driver, P., Gao, X., dan Mercer, S. dalam bukunya Learner Agency: Maximizing Learner Potential, Learner Agency adalah perasaan memiliki atau rasa memiliki kontrol yang dimiliki peserta didik atas pembelajaran mereka. Dalam implementasinya, peserta didik harus dilibatkan dalam merumuskan tujuan dari pembelajaran, sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang learning centered. Namun, selama pandemi nampaknya itu sulit terwujud, karena minimnya interaksi dan komunikasi antara dosen dengan peserta didiknya. Saking parahnya, bahkan peserta didikpun tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada pertemuan pembelajaran berikutnya. Proses pembelajaran tidak hanya terbatas ini yang menjadikan para mahasiswa kurang dalam perkuliahan. Proses pembelajaran tidak hanya terbatas kepada penyampaian materi tetapi kepada proses pendidikan secara keseluruhan yang didalamnya termasuk pembentukan karakter dan pribadi peserta didik melalui nilai dan norma yang ada. Pendidikan karakter dan kepribadian dirasakan menjadi tantangan dalam penyelenggaraan pembelajaran secara daring, hal ini dikarenakan secara fisik pendidik dan peserta didik berada di lingkungan sosial yang berbeda, sehingga pengaruh lingkungan sosial dimana peserta didik mengikuti perkuliahan daring menjadi aspek yang luput dari proses penyelenggaraan pendidikan yang tengah dilakukan.

Perlunya Kebijakan Lembaga

Situasi dunia yang tidak menentu seperti ini, semestinya harus disikapi oleh pemangku kebijakan lembaga. Sebenarnya metode yang paling efektif tetaplah perkuliahan face to face secara langsung, akan tetapi jika wabah sudah memasuki stage pandemic maka jenis keefektifan metode perkuliahan sudah bukan lagi menjadi suatu masalah utama, yang terpenting adalah keselamatan orang banyak dan bentuk pertanggung jawaban dari pihak akademika terhadap berjalannya proses perkuliahan. Sistem kuliah ini hanya menjadi alternative bukan cara regular dan perlu dievaluasi keberlanjutannya. Harus ada kebijakan baru yang lebih adaptif. Perubahan model pembelajaran offline (tatap muka) menjadi online (tatap maya) perlu dibarengi dengan sistem dan metode pembelajaran yang humanis. Yaitu sistem yang bisa mengakomodasi berbagai situasi dan kondisi. Yang terjadi justru sebaliknya, meskipun melalui online, namun sistem pembelajaran tidak banyak yang berubah. Standar pencapaian sampai pada penilaian juga minim penyesuaian, sehingga justru menjadikan mahasiswa semakin berat. Dalam hal ini, perlu ada semacam penambahan muatan dalam kurikulum pembelajaran. Bukan hanya melulu pada tataran akademik (material knowledge) saja, namun juga tataran motivasi dan emosi. Mahasiswa perlu disisipi bekal tersebut, sehingga mereka bisa berkembang secara mental dan emosi, sehingga mereka akan siap dengan situasi apapun yang akan mereka hadapi. Penambahan muatan tidak berarti mengubah kurikulum yang sudah ada. Namun cukup menambahkan satu instruksi untuk menyelipkan brainstorming selama beberapa menit di awal.

Brainstorming adalah kegiatan berkelompok yang mana pesertanya saling berbagai ide mengenai suatu topik atau permasalahan. Brainstorming diperlukan untuk mencari upaya penyelesaian suatu masalah. Sehingga hasilnya nanti diharapkan bisa disetujui semua pihak yang terlibat di dalamnya. Pelaksanaan brainstorming membantu peserta mengekspresikan berbagai ide yang dimilikinya untuk kemudian dicatat. Brainstorming membantu anggota kelompok untuk berani menyumbangkan atau menanggapi ide yang ada. Brainstorming tersebut ditujukan untuk memberikan satu konteks pembelajaran kepada mahasiswa, sehingga meskipun pembelajaran secara online, tapi mereka tetap merasakan konteks pembelajaran di perguruan tinggi. Tujuan pelaksanaan brainstorming adalah mengumpulkan berbagai pendapat, informasi, ataupun pengalaman, untuk kemudian dijadikan peta informasi atau peta gagasan. Selain itu, brainstorming juga dilakukan supaya seseorang berani mengeluarkan ide atau gagasan yang dimilikinya. Brainstorming juga bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Tentunya dalam melakukan aktivitas ini, peserta atau anggota kelompok diharapkan bisa berdiskusi dan akhirnya menentukan peta gagasan yang disepakati bersama. Cara brainstorming, yakni lakukan penggalian ide atau gagasan yang terpikirkan; Tulis semuanya dalam kertas, tanpa terkecuali; Kualitas ide bukanlah hal utama, tapi tekankan pada sejumlah ide yang muncul di pikiran; Ungkapkan ide tersebut di hadapan teman sekelompok; Usahakan jangan mengkritik ide milik orang lain, namun dengarkan terlebih dahulu semua penjelasan yang berkaitan dengan idenya tersebut; Kumpulkan semua ide dan catat di kertas; Kemudian kembangkan ide dengan mendengarkan pendapat atau saran dari anggota kelompok lainnya; Setelah itu tanyakan kepada anggota kelompok, ide apa yang disepakati; Jangan lupa untuk menanyakan alasannya pula; Buat peta gagasan atau peta informasi dari ide yang telah dikumpulkan dalam kelompok.

Dikutip dari acerforeducation.id, cara mengaplikasikan metode brainstorming dalam pembelajaran, antara lain pertama, pahami aturan. Sebelum melakukan metode ini, seluruh kelas wajib memahami aturannya. Pendidik bisa menyampaikan kembali aturan tersebut, bahkan menempelkannya pada dinding sehingga semua murid dapat memahami aturan. Kedua, pemberian informasi dan motivasi. Pendidik menjelaskan contoh masalah yang akan dihadapi murid, beserta latar belakangnya. Kemudian mengajak murid untuk aktif untuk menyumbangkan pemikirannya. Ketiga, identifikasi. Pada tahap ini, guru menunjuk satu murid atau kelompok untuk menyumbangkan gagasan sebanyak-banyaknya. Semuanya ditampung, ditulis, dan tidak dikritik, sampai semua peserta mengemukakan pendapatnya. Keempat, klasifikasi. Tahap ini adalah mengklasifikasikan gagasan berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi ini disesuaikan dengan kebutuhan pemecahan masalah, misalnya berdasarkan faktor atau strategi. Kelima, verifikasi. Semua peserta brainstorming bersama-sama melihat kembali ide/respons/sumbang saran/gagasan yang telah diklasifikasikan. Setiap poin yang ditulis diuji relevansinya dengan pokok masalah. Apabila ada yang memiliki kemiripan bisa diambil salah satu, atau dicoret jika tidak berhubungan. Keenam, konklusi (penyepakatan). Pendidik serta peserta  didik kemudian menyimpulkan poin-poin alternatif pemecahan masalah yang sudah disetujui. Setelah semua menerima, diambil suatu kesepakatan terakhir pemecahan masalah yang dianggap paling tepat. Pada proses brainstorming Anda telah menemukan gambaran capaian pembelajaran di mata kuliah Anda. Selanjutnya mengurutkan secara sistematis bagaimana Mahasiswa akan memproses informasi yang Anda sampaikan, atau bagaimana urutan capaian pembelajaran mana yang perlu dituntaskan. Khusus untuk capaian pembelajaran ranah kognitif,  Taksonomi Bloom sangat membantu Anda untuk memahami proses kognitif manusia dalam belajar. Dimulai dari mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta.

Cara brainstorming juga akan memotivasi peserta didik untuk menghasilkan ide dan pemikiran kreatif yang awalnya mungkin terlihat gila. Beberapa dari pemikiran ini dapat dibuat menjadi solusi praktis dalam kehidupan nyata untuk mengatasi masalah. Sedangkan yang lain, dapat menjadi pemicu untuk ide-ide lain yang lebih banyak. Selama proses brainstorming, peserta didik harus menghindari kritik. Mereka tidak boleh mencoba merinci asumsi yang salah selama fase ini karena hanya akan menghasilkan batasan. Analisis dan penilaian selama langkah ini dapat mengurangi pembentukan ide dan membatasi kreativitas. Tuliskan ide di akhir proses dan untuk langkah berikutnya, mengeksplorasi solusi lebih lanjut dengan menggunakan pendekatan konvensional.

Pentingnya brainstorming, yakni  Brainstorming membuat orang berpikir lebih bebas, tanpa takut dihakimi; Brainstorming memotivasi adanya kolaborasi terbuka dan berkelanjutan yang memecahkan masalah bersama dengan menciptakan ide dan solusi inovatif; Dengan brainstorming, tim menghasilkan lebih banyak ide dalam waktu singkat. Yang kemudian dapat disempurnakan dan digabungkan untuk menghasilkan solusi yang ideal; Brainstorming membantu anggota tim untuk mencapai kesimpulan melalui konsensus; Brainstorming membuat anggota tim merasa nyaman dengan melontarkan ide satu sama lain, bahkan di luar diskusi yang terstruktur; Brainstorming memberikan perspektif yang berbeda dan menciptakan cara berpikir out of the box; Brainstorming adalah teknik yang bagus untuk membuat tim. Tidak ada satu orang pun yang memiliki kepemilikan atas hasil akhir, sehingga memungkinkan upaya tim yang sempurna.

Manfaat metode brainstorming, yakni mendapat ide dari luar, membangun ide, membentuk daftar ide, dan kerja tim.  Membangun setiap ide yang dikemukakan tidak harus berdiri sendiri. Penting untuk menyatakan ide meskipun itu bukan solusi yang tepat karena hal itu dapat memicu pemikiran yang lain. Konsep pembentukan ide adalah berbagi ide, yang memicu ide-ide baru, yang menciptakan rantai pemikiran baru. Satu-satunya cara untuk membangun ide agar dapat berkembang dalam brainstorming adalah tidak menutup ide yang keluar. Karena menutup ide seseorang hanya akan membuat orang lain enggan untuk berbagi dan pada gilirannya akan membatasi keberhasilan sesi.

Membentuk daftar ide di setiap sesi harus memiliki setidaknya satu orang yang menuliskan ide sehingga tidak ada ide yang hilang. Salah satu bagian terbaik dari sesi brainstorming adalah daftar ide yang dapat Anda bawa dan kembangkan di masa depan. Tidak semuanya dapat diterapkan dengan segera, tetapi daftar ide dapat membantu berpikir kreatif selama berbulan-bulan setelah sesi brainstorming selesai.

Sesi kerja tim dalam brainstorming akan menciptakan suasana tim. Brainstorming tidak akan terjadi tanpa orang lain. Mengundang rekan mahasiswa lain ke sesi brainstorming membantu memperkuat solidaritas dengan menciptakan pemikiran bahwa Anda berada di tim yang sama dan membuka opsi untuk meminta bantuan dari orang lain.

Reformasi Model Pembelajaran

Pendidikan memberikan kontribusi besar terhadap kualitas sumber daya manusia sebuah negara. Menurut survei kualitas pendidikan yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 77 negara (Makarim dalam Kasih, 2020). Survei tersebut menilai bahwa penyebab utamanya adalah sistem pendidikan yang terlalu membatasi siswa dan guru karena terlalu terpaku pada pemenuhan administratif semata serta kompetensi guru yang masih rendah. Dengan kenyataan kualitas pendidikan yang bisa dibilang tidak baik, maka dibutuhkan perubahan besar-besaran pada sistem pendidikan di Indonesia, apalagi dengan arus perkembangan teknologi yang cepat. Digitalisasi menuntut sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing tinggi untuk menghadapi tantangan global dari Revolusi Industri 4.0 ini.

Tuntutan ini bisa dilakukan dengan membentuk sistem pendidikan bermutu tinggi yang sesuai dengan kebutuhan dan mampu berevolusi dalam menghadapi perubahan. Proses pembelajaran harus berbasis pada pemanfaatan teknologi, membentuk sistem dengan fokus utama adalah peserta didik dengan guru sebagai fasilitator, tanpa melupakan peran orang tua dan lingkungan di luar pendidikan formal.

 Singapura, negara dengan sistem pendidikan terbaik di Asia Tenggara, adalah contohnya. Proses pembelajaran negara ini berfokus pada pengembangan kemampuan critical-thinking, problem-solving, serta contextual learning skill, yaitu konsep belajar yang mampu mendorong peserta didik untuk menerapkan teori dalam menghadapi tantangan di dunia nyata. Sistem pendidikan di Singapura juga dirancang untuk mendorong setiap siswa berkembang sesuai dengan kemampuannya dengan kenyataan cara dan kecepatan belajar siswa yang berbeda-beda untuk memastikan setiap peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama. Silabus pembelajaran dibuat lebih singkat agar peserta didik memiliki waktu untuk mengeksplorasi minat masing-masing.

Negara Singapura memandang bahwa pendidikan merupakan prioritas utama dalam perkembangan ekonomi dan kemajuan negara. Hal ini terlihat dari persiapan dalam pembuatan kurikulum nasional yang sangat baik dan kredibilitas para guru. Negara ini menargetkan seleksi yang ketat dengan hanya kurang lebih 30 persen calon guru yang diterima di NIE (National Institute of Education) dan memastikan bahwa para guru dapat beradaptasi dengan era pembelajaran digital dengan model pembelajaran “A Teacher Education Model for The 21th Century”. Selain itu, sistem pendidikan Singapura juga menekankan pada keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran peserta didik dengan Parent Support Group dan pertemuan tahunan orang tua. Alhasil, terbentuk generasi muda yang berdaya saing tinggi dan siap menghadapi tantangan global digitalisasi.

Berbagai kebijakan telah dijalankan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam upaya menghadapi pandemi Covid-19. Untuk aspek reformasi, akselerasi transformasi pendidikan antara lain dilakukan dengan bergulirnya lima kebijakan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar bercita-cita menghadirkan pendidikan bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Esensi Merdeka Belajar adalah kemerdekaan berpikir. Dalam implementasinya, sekolah, kampus, murid, mahasiswa, guru, dan dosen memiliki kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri, dan kreatif. Sejalan dengan amanat Presiden RI, pemajuan kebudayaan sebagai benteng ketahanan bangsa dilakukan dengan tetap merangkul segenap masyarakat, agar semakin tangguh dan mampu bangkit dalam situasi apapun. Dalam hal ini, Kemendikbud tidak hanya mendorong pelestarian budaya tradisi, tetapi juga memajukannya dengan cara menghidupkan interaksi antarbudaya untuk memperkaya keanekaragaman yang menyejahterakan, mencerdaskan, dan mendamaikan. Kebijakan Merdeka Belajar memberi kemerdekaan setiap unit pendidikan berinovasi. Konsep ini harus menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur. Kemendikbud menyiapkan strategi yang tidak akan keluar dari esensi pendidikan, yakni kualitas guru. Guru tidak akan mungkin bisa digantikan teknologi. Konsep pelatihan guru akan berubah dari model seminar atau lokakarya menjadi pelatihan yang lebih praktis. 

Kurikulum yang mudah dipahami dan lebih fleksibel juga menjadi salah satu hal yang diperlukan untuk mendukung implementasi Merdeka Belajar. Kurikulum yang dapat mendorong para guru agar dapat memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi, tetapi sesuai tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing siswa. Teknologi adalah alat bantu guru meningkatkan potensi mereka dan mencari guru-guru penggerak terbaik serta memastikan mereka bisa menjadi pemimpin-pemimpin pembelajaran dalam sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah dan murid kita untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan. Keberagaman pendekatan yang ada menghasilkan berbagai macam teknik dan inovasi di setiap daerah, sekolah, dan siswa. Semua itu hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan teknologi. Merdeka Belajar tidak akan mungkin bisa berhasil tanpa teknologi. Teknologi ini bukan semuanya online melainkan bisa macam-macam. Begitu pula dengan menggunakan televisi sebagai media pembelajaran. Jadi semua yang kita sebutkan teknologi akan digunakan dalam mengimplementasi Merdeka Belajar. Di sisi lain, pandemi Covid-19 justru memberikan potensi akselerasi kebijakan Merdeka Belajar. Pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa sebenarnya ada selisih besar antara mereka yang memiliki akses terhadap teknologi dengan yang tidak. Padahal, teknologi memiliki potensi pemerataan akses atau kesempatan mendapat akses yang setara terhadap materi dan pembelajaran yang sama.

Ada 9 aspek reformasi untuk menghadapi pandemi, yakni 1) KIP Kuliah Kemendikbud memberikan kesempatan seluas-luasnya terhadap pendidikan dan bagi setiap kelompok sosial ekonomi. Salah satunya melalui program KIP Kuliah; 2) Merdeka Belajar Merdeka Belajar yang bercita-cita menghadirkan pendidikan bermutu tinggi bagi semua rakyat Indonesia; 3) Kampus Merdeka Kampus Merdeka merupakan salah satu upaya Kemendikbud untuk meningkatkan peran pendidikan tinggi sebagai bagian dari solusi permasalahan bangsa; 4) Peningkatan program pendidikan tinggi berkualitas Penyiapan 5 PTN untuk menjadi STP (Science Techno Park) yaitu ITB, IPB, UGM, UI, ITS. Penyiapan 34 center of excellence bidang kewirausahaan dengan 3.000 calon start-up mahasiswa. Penyiapan 8 Indikator Kinerja Utama untuk fasilitas Kampus Merdeka, pendidikan tinggi relevan dengan industri 4.0/dunia kerja/dunia usaha. Percepatan peningkatan kapasitas dan kapabilitas dosen. Fasilitasi peningkatan kualifikasi dosen; 5) Organisasi Penggerak Kemendikbud mendorong gotong royong bersama semua pemangku kepentingan guna melakukan transformasi kepeminpinan, pendidikan calon guru, dan pengembangan ekosistem belajar guru yang berorientasi kepada murid; 6) Guru Penggerak Dalam rangka mendukung terciptanya 10.000 Sekolah Penggerak, Kemendikbud mendukung para guru untuk melakukan lompatan kemajuan dalam memberikan yang terbaik bagi murid, salah satunya melalui Program Pendidikan Guru Penggerak; 7) "Link and Match" antara Pendidikan Vokasi dengan industri dan dunia kerja Bersama, vokasi masa kini dan masa depan lebih kuat dan menguatkan Indonesia; 8) Pemajuan Kebudayaan Landasan untuk membangun SDM juga berupa pendekatan pemajuan kebudayaan yang sifatnya tidak hanya melestarikan budaya tradisi. Tetapi juga memajukan dengan cara menghidupkan interaksi antarbudaya untuk memperkaya keanekaragaman yang menyejahterakan, mencerdaskan, dan mendamaikan; 9) Penguatan pendidikan karakter Pelajar Pancasila adalah perwujudan Pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas bukan berarti pembelajaran klasikal sebagaimana lumrahnya yang dijalankan sebelum pandemi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, mulai dari jumlah peserta di kelas sampai dengan model blended atau hybrid yang dipilih. Dengan kata lain, PTM terbatas lebih sulit dibanding dengan full online atau offline. Seorang dosen, dituntut untuk lebih fleksibel dan bahkan kreatif untuk membuat pembelajaran bisa mencapai target yang diharapkan. Bukan hanya urusan ketuntasan materi atau kompetensi, namun juga sejauh mana motivasi dan perhatian mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran. Jika dianalogikan, ibarat tujuan pembelajaran adalah tujuan akhir dari sebuah perjalanan, maka tidak harus selalu menggunakan transportasi bus saja. Namun bisa mencoba transportasi lain. Jika biasanya melewati jalur regular, maka dimungkinkan juga lewat jalur alternatif. Untuk itu diperlukan sebuah terobosan untuk menjembatani semua model pembelajaran. Salah satunya dengan menyesuaikan karakteristik tiap materi pembelajaran. Ada materi yang bisa disampaikan dengan model Asyncronous (daring tidak langsung), namun ada juga materi yang memerlukan adanya daring langsung (syncronous). Selain itu, model pembelajaran juga bisa didesain dengan aktivitas yang open-ended. Mahasiswa diberi kesempatan lebih banyak untuk mengeksplorasi materi yang dipelajari dengan cara mereka dan memungkinkan untuk mengaitkannya dengan konteks kehidupan mereka. Sehingga dengan model seperti ini, dosen tidak lantas mengukur kinerja mahasiswa dengan benar dan salah. Namun mahasiswa yang pada akhirnya akan menemukan mana yang sesuai dan mana yang tidak.

Terkait visi dan misi pendidikan nasional, reformasi pendidikan meliputi, pertama, perubahan penyelenggaraan pendidikan, dinyatakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi kreativitas peserta didik. Prinsip itu memicu pergeseran paradigma proses pendidikan, dari pengajaran ke pembelajaran. Paradigma pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransformasikan pengetahuan kepada peserta didik bergeser pada paradigma pembelajaran. Ini membuat peserta didik lebih mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya. Kedua, perubahan pandangan tentang peran manusia. Dari paradigma manusia sebagai sumber daya pembangunan menjadi manusia sebagai subyek pembangunan secara utuh. Pendidikan harus mampu membentuk manusia berkarakteristik personal yang paham dinamika psikososial dan lingkungan kulturalnya. Bukan sekadar siap pakai. Ketiga, perubahan pandangan terhadap keberadaan peserta didik yang terintegrasi dengan lingkungan sosio-kulturalnya yang nantinya menumbuhkan individu sebagai pribadi yang mandiri dan berbudaya. Dalam hal ini perbedaan anak didik lebih dihargai daripada persamaan. Ketiga prinsip ini menjadi dasar reformasi pendidikan nasional. Namun, hingga 14 tahun Reformasi, tanda-tanda perubahan penyelenggaraan pendidikan belum kentara, bahkan lebih menonjol penyimpangan dan kemandekannya.

Peran Orang Tua

Berdasarkan kondisi yang ada, maka dibutuhkan peran orang tua sebagai pengganti selama proses pembelajaran jarak jauh. Peran orang tua selama Pembelajaran Jarak Jauh atau Pembelajaran Daring; antara lain :

Orang tua sebagai fasilitator, yaitu orang tua sebagai sarana dan pra-sarana bagi anaknya dalam melaksanakan pembelajaran daring.

Orang tua sebagai motivator, yaitu orang tua dapat memberikan semangat serta dukungan kepada anaknya dalam melaksanakan pembelajaran daring, sehingga anak memiliki semangat untuk belajar, serta memperoleh prestasi yang baik.

Orang tua sebagai pengaruh dan pengarah.

Pendampingan

Pendampingan yang diberikan oleh orangtua di rumah dalam pembelajaran daring dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Pendampingan merupakan upaya yang dilakukan oleh pihak pendidik (dosen dan orangtua) secara individual. Fungsi pendampingan dalam pembelajaran daring dapat mendukung dan memberikan nilai kepuasan psikologis pada anak sehingga anak lebih senang belajar.

Anak menjadi senang merasa didukung oleh orangtua, dan tidak mengalami kejenuhan serta meminimalkan gangguan-gangguan belajar yang bisa muncul; misalnya memainkan benda di sekitar, mengantuk, tidak konsentrasi, dll. Dengan semakin intens pendampingan belajar orangtua kepada anak, maka diharapkan hasil belajar yang diraihnya akan lebih baik. Bentuk pendampingan orangtua, yakni 1) Pendampingan yang dapat dilakukan orangtua kepada anak antara lain; 2) Pendampingan terhadap perilaku; 3) Pendampingan dalam bersikap; 4) Pendampingan dalam berbicara; 5) Pendampingan dalam belajar. Bentuk-bentuk pendampingan tersebut disertai dengan membangun rasa empati, memberi kepercayaan, memberikan contoh yang baik, memberi rasa tanggung jawab, dan penghargaan maupun penguatan.

Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anaknya. Mendidik anak tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas dan suasana yang nyaman saat belajar. Orang tua harus memberikan teladan yang baik dan selalu memotivasi anak untuk belajar. Kendala yang kerap muncul dalam pembelajaran daring adalah kurangnya student’s engagement atau keterlibatan siswa. Hal ini bisa diakibatkan oleh rasa bosan atau ada sesuatu yang mengalihkan perhatian anak seperti televisi atau HP.

Ketika memberlakukan sebuah peraturan di rumah, pastikan orang tua juga melakukan aturan tersebut.  Misalnya anak dilarang bermain HP saat belajar, pada saat yang sama usahakan orang tua tidak sibuk bermain HP juga. Begitupun dengan bagaimana mengelola waktu, menjaga kebersihan rumah, dan juga bagaimana bersikap, orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Sikap dan karakter anak di rumah akan tercermin pada sikap dan prilaku belajar anak juga.

Faktor Pendukung dan Kendala Orang tua

Faktor pendukung kegiatan pendampingan orang tua terhadap anak yaitu kemauan, kesabaran, partisipasi anak, dan hubungan interpersonal dengan gurudan anak terjalin dengan baik.

Sedangkan beberapa faktor yang menghambat kegiatan pendampingan yakni, motivasi anak, minimnya dukungan fasilitas, dan kurangnya variasi dalam kegiatan dan lingkungan sekitar anak.

Peran orang tua dalam melakukan pembelajaran daring juga ditentukan oleh beberapa faktor seperti pendidikan, pekerjaan dan pendapatan orang tua.

Orang tua perlu melatih diri untuk menguasai pengoperasian perangkat digital dan internet. Orang tua juga perlu meluangkan waktu sehingga bagi orang tua yang dalam mencari nafkah membutuhkan kerja keras effort yang tinggi akan mengalami kesulitan. Orang tua mahasiswa harus bisa memahami pengalaman mahasiswa dan menyadari sumber daya yang tersedia di kampus, memahami dan mendukung tujuan lembaga untuk pengembangan dan pembelajaran mahasiswa, mengetahui kapan harus turun tangan untuk membantu anak mereka dan kapan harus memberdayakan mahasiswa mereka untuk bertanggung jawab serta mengembangkan afinitas untuk institusi, berpartisipasi dalam acara-acara kampus, membantu orang tua dalam memahami pengalaman mahasiswa, dan mendukung institusi pendidikan tinggi. Semua hal tersebut agar peran orang tua terhadap anaknya yang berstatus mahasiswa aktif dalam proses perkuliahan anaknya secara tidak langsung.

Pendapat ini menunjukkan bahwa orang tua mahasiswa dan perguruan tinggi harus berkolaborasi dalam pengembangan pembelajaran dan karakter mahasiswa secara langsung maupun tidak langsung. Wujud keterlibatan orang tua mahasiswa yakni orang tua dapat memberi dukungan akademik secara langsung pada anak-anak mereka dalam kuliah sesuai latar belakang pendidikan mereka sendiri. Keterlibatan langsung seperti memonitor atau memantau anaknya agar dapat memberikan arahan dan motivasi saat kuliah daring. Selanjutnya, orang tua bisa memiliki tingkat keterlibatan yang tinggi dalam kegiatan ekstrakurikuler, hal ini bisa menjadi faktor penting dalam pengembangan aspirasi pendidikan anak mereka. Orang tua mahasiswa juga seharusnya demikian, tetapi faktanya tidak saat kuliah daring. Para orang tua bagi mahasiswa biasanya cenderung menyerahkan semua urusan kuliah pada anaknya. Orang tua hanya sesekali menanyakan perkembangan belajar anaknya di kampus. Atau bahkan hanya komunikasi saat si anak menyampaikan kebutuhan biaya kuliah. Semenjak pandemi, intensitas pertemuan orang tua dan anak semakin sering. 

Saat perkuliahan, mahasiswa hanya duduk di kamar atau ruang keluarga dengan melihat laptop atau gawainya. Di sinilah, waktu yang tepat bagi orang tua untuk mengamati dan mendampingi anaknya. Bahkan sesekali bisa menanyakan tentang proses perkuliahannya agar anaknya yang berstatus mahasiswa dapat belajar maksimal dalam perkuliahan terbatas yang berlangsung dari rumah masing-masing. Dengan pendampingan tersebut, orang tua bisa memberikan masukan, nasehat dan semangat kepada anaknya. Meskipun terkesan biasa saja, namun pendampingan tersebut mampu menjadi ajang berbagi. Sehingga anak tersebut tidak merasa sendiri, dan punya teman dan tempat diskusi. Selain itu, orang tua juga bisa mengambil peran sebagai penilai dan evaluator bagi anaknya. Tentunya ini tidak pada tataran akademik, namun tataran emosional dan sosial. 

Perlu diingat bahwa orang tua tidak boleh menuduh anaknya bersalah saat kurang mengikuti kuliah daring dengan baik karena akan menjadikan mental anaknya yang berstatus mahasiswa menjadi terpuruk. Misalnya, orang tua hanya melihat nilai kuliah anaknya jelek dan menuduhnya berkuliah tidak sungguh-sungguh. Alangkah baiknya, orang tua memotivasi dan memantau anaknya yang sedang berkuliah daring agar mentalnya semakin penuh motivasi. Minimnya interaksi dalam pembelajaran daring, akan berdampak juga pada kompetensi emosional dan sosial mereka. Sehingga yang bisa mengambil peran ini adalah orang tua, karena yang setiap hari selalu membersamainya. Oleh sebab itu, orang tua sebagai garda terdepan dalam perkembangan anak dalam menempuh pendidikan yang beberapa tahun terakhir aktivitasnya berlangsung dari rumah karena pandemi virus Covid-19. Jadi, apabila proses pendidikan anak kurang maksimal orang tua harus berpartisipasi untuk menstabilkan perkembangan anak secara psikis.

Komentar